Selasa, 17 September 2013

Ajari Aku..

teriknya matahari yang membakar sela-sela keramaian kota membuncah kala siang itu teriakan anarkis dari masyarakat yang bergerombol menolak kenaikan bahan bakar. ya, akhir-akhir ini sering kudapati pemandangan seperti ini, namun tak mengurungkan niat ku untuk ke tempat tujuanku siang itu. secepat kilat aku membelokkan skuter menjauhi gerombolan itu.
panas yang menyengat cukup membasahi punggung ku yang menantang matahari siang itu.tak berapa lama setelah mengikuti lorong dan celah sempit di belakang pasar tradisional aku sampai di tempat tujuanku.
akhirnya, aku bisa kembali merasakan ketenangan di tempat ini. ya, sudah 3 tahun terakhir aku sering berkunjung ke rumah singgah ini. tidak banyak yang berubah sejak aku pertama kali datang dan bergabung dengan beberapa mahasiswa dan beberapa pendonor harta mereka di rumah singgah ini. ini adalah tempat kami biasa berkumpul dengan anak-anak jalanan dan kurang mampu yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah. beragam umur dan sikap dari anak-anak inilah yang sering mengisi hari-hariku. hari ini aku bertugas berbagi ilmu dengan mata perlajaran bahasa inggris.
Nara, salah satu murid asuhan ku dengan berlari kecil menghampiriku, ada kantong es cendol di genggamannya. aku tersenyum sambil menyeruput es cendol di genggamannya.

sore menjelang ketika aku menyelesaikan tugasku hari itu. sedikit mendung di langit sore. ada Pak Ihwan dan Bu Delima yang berkunjung hari itu, tampak bercengkerama dengan ketua rumah singgah. aku hanya berpapasan dengan mereka dan tersenyum sambil meminta pamit.
tempat ini begitu lekat untuk ku beranjak, banyak juga kenangan yang aku rasakan selama 3 tahun terakhir, kecuali 1 tahun terakhir..
disini, di tempat ini di sela-sela gelak canda anak-anak yang aku bimbing, ada tawa ku juga yang menghiasi setiap waktu yang mempertemukan aku kepada seseorang yang begitu lekat dalam hidupku.
dialah Fajar, seseorang yang dulu kucintai dan dia juga mencintaiku. namun sekarang bukanlah waktu seperti dulu, seperti waktu aku dan dia saling memiliki satu sama lain.
aku duduk di tepian meja depan ruangan ku berbagi ilmu. ada cahaya mentari yang menelusup sela-sela bangunan yang padat sore itu.
sudah setahun terakhir sejak Fajar pergi dari kehidupanku. dia telah bersama wanita nya yang baru, merangkai kisah baru. begitu mudah dia melewati ini semua. seperti tanpa luka, ia menikmati hidup, bahkan telah berkisah dengan wanita lain. berbeda dengan apa yang aku rasakan. aku masih terpekur dalam hampa yang merenggut tiap-tiap hariku. aku hanya bisa menatap fajarku yang dulu dari jauh, dari sela-sela hingar-bingar kehidupan

teruntuk Fajar ku .
begitu mudah luka yang aku tancapkan padamu kau lewati tanpa erangan pilu.
maafkan aku atas apa yang aku lakukan, cintamu memang tiada dua.
namun, baru ku sadari sekarang, setelah aku dan kamu mengambil jalan sendiri-sendiri.
kesalahan terbesar ku adalah, melalaikan seluruh perhatianmu dan membiarkan cinta yang lain masuk ke dalam kehidupan kita, hingga engkau tersisih.
aku mohon, ajari aku bagaimana bertahan seperti kamu, melewati hari-hari tanpa kenangan yang mengiris derik-detik hariku
ajari aku tetap kuat meski tak lagi dalam dekapan hangatmu.
sunggguh aku tak pernah rela kamu dengan wanita-wanita mu itu.
namun, aku bukanlah siapa-siapa lagi untukmu.

fajar, engkau begitu hangat. dalam diam aku merindukanmu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar