Selasa, 17 September 2013

Ajari Aku..

teriknya matahari yang membakar sela-sela keramaian kota membuncah kala siang itu teriakan anarkis dari masyarakat yang bergerombol menolak kenaikan bahan bakar. ya, akhir-akhir ini sering kudapati pemandangan seperti ini, namun tak mengurungkan niat ku untuk ke tempat tujuanku siang itu. secepat kilat aku membelokkan skuter menjauhi gerombolan itu.
panas yang menyengat cukup membasahi punggung ku yang menantang matahari siang itu.tak berapa lama setelah mengikuti lorong dan celah sempit di belakang pasar tradisional aku sampai di tempat tujuanku.
akhirnya, aku bisa kembali merasakan ketenangan di tempat ini. ya, sudah 3 tahun terakhir aku sering berkunjung ke rumah singgah ini. tidak banyak yang berubah sejak aku pertama kali datang dan bergabung dengan beberapa mahasiswa dan beberapa pendonor harta mereka di rumah singgah ini. ini adalah tempat kami biasa berkumpul dengan anak-anak jalanan dan kurang mampu yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah. beragam umur dan sikap dari anak-anak inilah yang sering mengisi hari-hariku. hari ini aku bertugas berbagi ilmu dengan mata perlajaran bahasa inggris.
Nara, salah satu murid asuhan ku dengan berlari kecil menghampiriku, ada kantong es cendol di genggamannya. aku tersenyum sambil menyeruput es cendol di genggamannya.

sore menjelang ketika aku menyelesaikan tugasku hari itu. sedikit mendung di langit sore. ada Pak Ihwan dan Bu Delima yang berkunjung hari itu, tampak bercengkerama dengan ketua rumah singgah. aku hanya berpapasan dengan mereka dan tersenyum sambil meminta pamit.
tempat ini begitu lekat untuk ku beranjak, banyak juga kenangan yang aku rasakan selama 3 tahun terakhir, kecuali 1 tahun terakhir..
disini, di tempat ini di sela-sela gelak canda anak-anak yang aku bimbing, ada tawa ku juga yang menghiasi setiap waktu yang mempertemukan aku kepada seseorang yang begitu lekat dalam hidupku.
dialah Fajar, seseorang yang dulu kucintai dan dia juga mencintaiku. namun sekarang bukanlah waktu seperti dulu, seperti waktu aku dan dia saling memiliki satu sama lain.
aku duduk di tepian meja depan ruangan ku berbagi ilmu. ada cahaya mentari yang menelusup sela-sela bangunan yang padat sore itu.
sudah setahun terakhir sejak Fajar pergi dari kehidupanku. dia telah bersama wanita nya yang baru, merangkai kisah baru. begitu mudah dia melewati ini semua. seperti tanpa luka, ia menikmati hidup, bahkan telah berkisah dengan wanita lain. berbeda dengan apa yang aku rasakan. aku masih terpekur dalam hampa yang merenggut tiap-tiap hariku. aku hanya bisa menatap fajarku yang dulu dari jauh, dari sela-sela hingar-bingar kehidupan

teruntuk Fajar ku .
begitu mudah luka yang aku tancapkan padamu kau lewati tanpa erangan pilu.
maafkan aku atas apa yang aku lakukan, cintamu memang tiada dua.
namun, baru ku sadari sekarang, setelah aku dan kamu mengambil jalan sendiri-sendiri.
kesalahan terbesar ku adalah, melalaikan seluruh perhatianmu dan membiarkan cinta yang lain masuk ke dalam kehidupan kita, hingga engkau tersisih.
aku mohon, ajari aku bagaimana bertahan seperti kamu, melewati hari-hari tanpa kenangan yang mengiris derik-detik hariku
ajari aku tetap kuat meski tak lagi dalam dekapan hangatmu.
sunggguh aku tak pernah rela kamu dengan wanita-wanita mu itu.
namun, aku bukanlah siapa-siapa lagi untukmu.

fajar, engkau begitu hangat. dalam diam aku merindukanmu..

Ketika Perasaanku Meluap

kita bergandengan tangan dalam gerimis tipis yang membasahi kota kala itu. beriringan di tengah gemericik rintik-rintik yang mulai jatuh deras. kita tiba di cafe dimana tempat biasa kita kunjungi berdua. kamu kibaskan rambutmu yang basah sambil tersenyum, tak lama setelah kita duduk disisi jendela, jadilah aku dan kamu bisa mendapati padatnya jalan raya menuju senja. masih dengan keadaan canggung, aku mengamati wajahmu, ada sebuah tanda tanya besar yang aku sembunyikan. menemukan kamu kembali, sebuah kebetulan atau jawaban atas do'a-do'a yang selalu aku panjatkan ketika merindukan bayangmu. rupanya kamu menyadari sifatku kala itu, aku tak kan pernah menyangka bahwa kamu menggenggan erat sela-sela jemariku. aku hanya bisa menyunggingkan senyumku, ada perasaan yang bergelayut diam-diam menghampiri nalarku. ada getaran yang berharap bahwa ini semua bukanlah perasaan yang keliru, aku berbesar hati tentang ini, bukanlah hal biasa-biasa yang kamu lakukan untukku. aku berharap ada sesuatu yang istimewa hari ini, sekarang ini. aku berhadapan dengan kamu, menghabiskan segelas lemon tea hangat dan sepotong puding bersama mu. ayolah, perasaan ini telah menjarah seluruh syaraf, belum juga kamu bercerita apa maksudmu untuk pertemuan kali ini. aku dalam kegelisahan ini, sedangkan kamu masih nampak biasa-biasa saja. aku mungkin bukanlah hal yang spesial lagi seperti dulu, seperti kita pacaran. lalu apa salah sampai detik ini aku selalu berharap agar kita kembali seperti dulu? hanya aku yang merasakan hal ini? ataukah kamu juga?
kamu memperlakukan tanpa batasan seperti dulu, bukankah kita hanya berteman biasa saja saat ini.
ah, baru kusadari ini hanyalah sebuah tragedi, aku dengan kepercaya dirian yang terlalu berlebihan hingga menganggap ini semua hal luar biasa. ya, aku buru-buru sadar akan hal itu, lalu seperti biasa, aku akan kembali ke kenyataan, mendengar semua bualan dan cerita-cerita omong kosongmu itu.
dan seperti biasa, kamu selalu bisa membangkitkan syarafku untuk selalu berharap lebih dan lebih tentang hari ini dan hari-hari sebelumnya.
lalu, apa maksud ini semua. aku yang diam-diam mengagumimu, dengan semua sifat yang melekat kuat, serta karakter yang walaupun tak ada ubahnya. masih aku tunggu, aku nantikan..
bisakah aku berpaling sekarang, berlari dan menangis di tengah derasnya hujan agar kau tak tau betapa aku merindukan ini.

keadaan berbalik, kini kau berganti mendengarkan kau, entah akupun tak tau apa yang aku ocehkan di hadapnmu. hingga aku sadari mulut mu menganga dan berdiri.
aku mendelik mata ke atas, melihat kamu masih dengan keheranan. aku diam menunduk dengan menitikpusatkan penglihatanku pada sepotong puding yang masih bersisa.

entah bagaimana, kamu mendekap aku kuat-kuat, orang lain yang berada di sekitar kita bersorak sorai bertepuk tangan dengan pandangan takjub atas ocehanku barusan.
apa yang barusan aku ucapkan?

lupakan semua itu, sekarang aku dan kamu kembali menyatu seperti dulu. bahagiaku dan bahagiamu. memperbaiki semua kesalahpahaman yang pernah kita lewati. mengukir kembali namamu dan namaku dalam lembaran baru.

Kamis, 05 September 2013

Initial

aku tidak pernah tau kapan cinta akan datang dan pergi, namun aku tidak pernah takut untuk beriringan dengan takdir cinta yang akan membawa aku dalam cinta yang lain.. 
apa yang membuat kita bahagia lakukan. hidup ini sekali.
cinta ada dimanapun kita berada, bahkan di tempat dan waktu yang tak pernah kita duga..
aku dan kamu telah menjadi kenangan bagai abu yang tertiup angin..
namun bukan berarti aku tidak pernah bersedih lagi akan kenangan yang tak akan pernah kita wujudkan bersama, juga bukan berarti aku telah berdiri kuat dengan senyum sempurna atas kepergianmu..
tak semudah itu memang..
tapi setidaknya aku masih dengan khayal dan angan tentang kamu, bagikan warna-warni..
begitu kamu hadir dengan kamu yang khas dalam benakku tiada lagi isakan yang mengiringi aku dengan keasyikan ku bercengkerama dengan kamu..
semua begitu tampak nyata bagiku, walaupun aku hanya menghadirkan kembali kisah kita yang telah lalu..
dengan atau tanpa kamu aku belajar bahwa kehidupan ini akan membuat aku lebih dewasa..
tak ada yang mampu merubah setiap objek kenangan yang ingin selalu aku ingat, yaitu kamu..
begitu berartinya hingga tak ada yang menggantikan kamu dihatiku..
tiada yang lain..
tetap satu nama Y dihatiku..

Rabu, 14 Agustus 2013

Adoration

Mungkin hatimu akan beranjak dari hatiku, itulah mengapa alasan ku untuk selalu menekankan bahwa aku mampu jauh darimu dimanapun kamu berada, bahkan disetiap waku. aku yang percaya pada kekuatan cinta dan keberadaanya diantara aku dan kamu. namun aku menggila akan dirimu, saat bertatapan, saat saling memandang satu sama lain, aku lemah oleh pandanganmu itu, sorot mata yang selalu teduh untuk jiwaku. aku benci utnuk mengakui bahwa aku merindukan pelukan dari pria sepertimu, aku benci memandang bahumu dari belakang saat kau melangkah pergi dari hadapanku (bahkan dari hidupku).

meskipun kita dipisahkan oleh takdir yang menyedihkan, aku tahu bahwa aku tidak akan menjadi jeritan hatimu lagi.
kini kusadari tidak ada yang mampu menggantikan kamu, aku tahu bahwa tidak ada yang berarti dan berharga bagikku selain kamu.
senyuman yang tersungging di bibirmu saat aku tersenyum dan tertawa, selalu aku bayangkan bahwa hal itu begitu kuat masuk dalam ingatanku, dan membawa rona bahagia dalam hidupku.

tidak ada yang bisa aku harapkan lagi, seperti sekarang ini..
saat aku membayangkan hangat nafasmu begitu dekat lagi hangat.

Jumat, 26 Juli 2013

karmaku

aku tahu kita sama-sama suka, saling memuji satu sama lain dan sering bertemu pandang dalam perjumpaan yang membuat kita akhirnya saling mengakrabkan diri. suatu komunitas yang biasa mempertemukan antara mahasiswa untuk saling beradu argumen. diam-diam aku suka dengan kebiasaan konyol yang selalu berhasil mendorong untuk menyatukan kita berada dalam situasi hanya ada aku dan kamu.
kelamaan aku merasa ada sesuatu yang menarik aku untuk selalu berada di dekat kamu, sesuatu yang aku sebut dengan kenyamanan. aku tak tahu pasti, apa itu cinta? apa yang aku rasakan sebenarnya? mungkin aku lancang dengan perasaan yang begitu bergejolak dalam hati ini. namun apalah daya? daya pikatmu begitu mempesona hingga masuk terlalu dalam di benakku.

seminggu sekali dalam waktu yang mempertemukan aku dan kamu di sela-sela aktifitas kampus ternyata tak cukup untuk menenangkan perasaan ku yang kalang kabut karena merindu sosokmu. kian hari aku begitu terbius oleh kata-kata manis mu di sms. aku begitu takhluk dengan kata-kata manis mu di ujung telepon. salahkah aku dengan apa yang mendera ku? aku yang telah memiliki sosok kekasih yang selalu menemani ku kini tak aku gubris dengan semua perhatian yang tak memudar sedikitpun darinya. sedangkan aku semakin dalam mengagumi seseorang lain yang baru saja aku kenal.

pertemuan kita semakin dalam membawa kita dalam sebuah hubungan yang semakin erat, namun kamu dan aku tak berani saling memandang mata untuk mengutarakan perasaan  bahwa kita saling mencinta. bahwa kita saling memiliki perasaan untuk membahagiakan. tapi aku dan kamu tahu bahwa ada seseorang lain di masing-masing pihak akan berontak merasa disakiti oleh apa yang kita sama-sama rasakan. kamu masih mencintai dia, perempuanmu. sedangkan aku masih mencintai dia, pria ku. sulit rasanya untuk aku dan kamu memilih.

hening akhirnya sering aku temui di nada handphone ku. tak lagi aku jumpai pesan-pesan singkat darimu, tak lagi aku dengar suaramu di ujung telepon dengan sejuta perhatian dan tingkah lakumu yang menjerat kalbu. satu hari dalam seminggu aku kembali menemukanmu, namun tak banyak yang bisa aku perbuat untuk menyatukan kembali kamu dan aku. aku merindukan kisah kita yang dulu, sedangkan kamu sepertinya tidak begitu seperti aku. 

aku tahu akhirnya kamu memilih setia kepada perempuanmu. sedangkan aku lebih memilih kamu. ya, aku tinggalkan dia, priaku untuk kamu. namun tak jua mengembalikan kita dalam kebersamaan yang hangat seperti dulu. aku merana,sayang. bisakah kau rasakan rasaku? aku merindumu, bisakah kau dengar laraku? mengapa pesonamu begitu merenggut nuraniku?

seiring waktu yang bergulir, aku merasakan apa itu cinta. aku turut bahagia dengan keputusan yang kamu ambil. senyum yang kamu kembangkan begitu hangat dalam bayang-bayang semu. kamu tinggalkan kota ini. sama halnya kamu meninggalkan aku dengan kenangan yang telah kita lukiskan. masing-masing langkah telah kita ambil untuk mendewasakan aku dan kamu. aku belajar dari kesetiaanmu dalam mengambil keputusan. selamat tinggal, sayang. aku bahagia kamu dengan nya.

Selasa, 23 Juli 2013

Kehadiranmu

Kamu hadir begitu saja dalam hidupku. Sekuat apapun aku menolak untuk menepis hadirmu kamu tetap dengan keputusanmu yang meyakini untuk membahagiakan aku. Begitulah sikapmu memang, tak gentar menelusup dalam hidupku.

Kamu hadir dalam hidupku yang terpuruk oleh kenyataan yang memperkenalkan aku dalam sebuah kehilangan yang begitu hebat. Aku kehilangan seorang suami yang begitu aku cintai. Ya, Lupus merenggut nyawa nya. Memisahkan aku dengan sejuta keakrabanku dengan nya. Aku yang terbuai oleh ombak kebahagiaan tiba-tiba harus menepi, mencari daratan baru. Memulai kembali kisah yang harus aku lewati tanpa suamiku.
Suamiku meninggalkan aku dan seorang bayi yang baru berusia 4 bulan waktu itu.

Hari-hari berikutnya, tuhan mempertemukan aku dan kamu, walau tak pernah bertatapn langsung, tapi kamu begitu nyata dengan warna-warni perhatianmu, sikapmu yang begitu dalam mempertegas bahwa kamu begitu memahami keterpurukanku.

Sayangnya sekuat aku menahan hati ini untuk menolak kehadiranmu yang rasanya begitu cepat dalam hidupku, semakin kamu mendobrak masuk lebih jauh. Aku sibuk dengan keangkuhanku yang begitu jelas aku tunjukkan padamu aku coba mengusir bayangmu yang mengikuti jejak-jejak perhatian dari suamiku.
Entah bagaimana antara kamu dan suamiku mempunyai kesamaan yang selalu menerkamku lewat perhatian-perhatian yang seringkali kamu selipkan dalam keseharianku. Kamu begitu jahat, pikirku. Mencabik-cabik rindu ini semakin dalam. Terlebih kamu adalah sahabat karib dari suamiku sejak masa kecilnya. Namamu sering aku dengar dari suamiku, namun tak pernah aku tahu bahwa orang yang selalu ia ceritakan adalah kamu.

Aku dengan nafasku yang kuhela melewati hari-hari dalam tulisan takdir tuhan, tanpa arah, mengikuti rotasi bumi dan perputaran waktu begitu saja, kadang lelah aku bantingkan tubuh ini pada tangis yang dalam, terisak tanpa siapapun yang tahu bahwa aku merindukan suamiku. Lagi-lagi kamu hadir mencoba mengusir sedihku. Menemani aku dalam isakan hebat, dengan kalimat-kalimat mu yang merdu menenangkan aku walau melalui telepon.

Tanpa aku sadari, aku tak lagi mampu menahan kehadiranmu yang semakin berhembus kala aku langkahkan kaki dalam hidupku yang baru. Goyah keyakinanku untuk menolak semua perhatian-perhatianmu yang meluruh dalam jejakku. Tak kupingkiri bahwa ada rasa nyaman yang bergejolak diam-diam dalam kehangatan yang kau hadirkan. Mungkin ini cara lain yang tuhan tuliskan dalam hidupku, menghadirkan kembali senyumanku yang luput dari hidupku, melalui kamu.


Aku telah menerima dengan lapang dada bahwa kamu telah hadir dalam hidupku, menerima aku dengan segala kondisi yang mungkin melebihi beban untuk hadir dalam hari-harimu. Begitu pula dengan janji-janji manis yang kamu janjikan untuk meneruskan kisah bahagia yang telah aku mulai dengan suamiku terdahulu. Semoga kasih sayang kamu rajutkan dalam kisah ini menjadi akhir yang membawa kebahagiaan untuk selamanya.

Jumat, 19 Juli 2013

Hujan Menghapus Mentari

perjumpaan kita berawal dari sebuah ketidak sengajaan yang tak akan pernah aku lupakan, kita bertemu di satu titik keramaian kota ini. kota tua yang menyemburatkan banyak kisah-kisah kehidupan. termasuk romansa antara aku dan kamu. kamu yang selalu tersenyum manis di bawah mentari pagi, selalu mengiasi aktivitas hari-hariku.jauh sebelum itu hati ini terpuruk. kau hadir sebagai obat yang membuat aku kecanduan dalam ramah tamah sikapmu, lemah lembut suaramu begitu mengalun di telingaku bagaikan simfoni pagi.

hari-hariku selalu bermula dengan menghampirimu di halte busway. setiap pagi yang selalu aku nantikan dimalam-malamku, betremu kamu di sana, bercanda ria, beriringan hingga di dalam perjalananpun aku mmapu terbuai dalam semangat yang membara oleh kamu. hati ini telah jatuh cinta! jatuh cinta kepada kamu Mentari. Mentari yang menyinari tahta hatiku, nama mu melekat hangat, duhai Mentariku.

rasa ini bergemuruh kala aku menemukan senyum mu yang mengembang diseberang sana, di halte yang biasa mempertemukan kita disetiap paginya, menghamburkan kita pada percakapan-percakapn ringan lagi hangat, hingga memisahkan kita di tempat kamu dan aku bekerja. begitulah hari-hariku bermula hingga mnegiringiku menuju senja yang bergejolak dengan semua angan tentang kamu. senja yang aku tunggu-tunggu tiba dan kembali mempertemukan kita beriringan menuju peradaban, menyempatkan sisa-sisa kebersamaan antara aku dan kamu di penghujung hari-hari yang menua. kembali aku dan kamu duduk berdampingan di busway, menceritakan penatnya hari-hari yang baru saja berlalu.

duhai Mentariku, bisakah kau dengar degup jantungku kala aku berdekatan denganmu, bisakah kau baca hati dan tingkah polaku yang kadang membuatku tak karuan oleh bayang-bayangmu yang silau. ya. aku silau dan bertahan pada indahnya dirimu, Mentari.
aku tak kuasa lagi memendam rasa ini dan ingin aku hempaskan di kenyataan, bahwa aku begitu terpesona dan jatuh hati padamu.

hari itu, aku tekadkan bahwa aku akan menyatakannya. menyatakan perasaan yang telah mewarnai hari-hariku sejak pertama kali kamu buai dalam perhatianmu. hari itu aku bawakan kamu cincin sederhana yang aku ikatkan pada salah satu balon yang spesial aku bawakan untukmu, semoga warna-warna nya memberikan kesan mendalam untukmu sebagai ungkapan dari perasaanku yang beraneka warna semenjak kehadiranmu.

hujan turun, membasahi kota tua ini, kala aku melangkahkan kaki menuju halte tempat kita biasa bertemu. namun aku tak melihat mu di sana, dimana tempat mu biasa duduk menungguku.aku menyisir tepian trotoar berharap menemukan di tengah derasnya hujan dan angin yang berhembus.
aku dapati teriakanmu yang memanggil namaku sambil melambaikan tangan mu dari balik pintu mobil yang berada ditepian trotoar. aku dengan basah yang melekat erat mengampirimu yang biasa ramah mencoba menggali lagi semangat ku yang menggebu, masih dengan menggenggam erat balon warna-warniku yang kupertahankan untukmu.

ada pertanyaan besar yang hinggap didalam kepalaku kala aku melihat sosok pria bersebelahan di sampingmu. berperawakan seseorang yang mapan dan tampan, berbanding jauh dengan kesederhaan yang selalu aku tunjukkan dihadapanmu. tak kusangka aku mengungkapkan nya juga, perasaan yang ku pendam dalam-dalam, aku nyatakan dalam derasnya hujan, aku ungkapkan dengan suara parau walau aku tak yakin kamu bisa mendengar suaraku. lemas, itulah perasaanku setelah aku menyelesaikan tujuanku.

kamu turun dari mobil, dengan perasaan heran dan bingung. dan yang paling jelas aku dengar adalah pernyataan yang keluar dari bibir manismu bahwa kamu telah memilih pria lain selain aku, pria yang sedang menantimu di dalam mobil. untuk yang terakhir kalinya, aku menggenggam erat tangan mu, berharap kamu bahagia dengan pilihanmu.

itulah terakhir kalinya aku bertemu denganmu, meninggalkan kenangan saat hujan mulai turun dihadapanku.

Senin, 15 Juli 2013

Dia yang Setianya terbalaskan

Dia begitu menawan hati banyak pria, posturnya berperawakan langsing tinggi semampai berambut panjang terurai. panggil saja Diana, Diana seorang perempuan berusia 25 tahun yang hidupnya penuh dengan gemerlap dunia beserta huru-haranya. aku mengenalnya beberapa bulan lalu, saat ia menyewa salah satu kost-kostan punya Ruby teman 1 kampusku dikota ini.
diana adalah sosok yang periang juga ramah, setidaknya itu pendapatku. berbeda dengan pendapat ruby yang seringkali mencemohnya dan beranggapan bahwa diana adalah perepuan penggoda dan genit. aku hanya tersenyum dan tak menggubris komentar Ruby. suatu hari aku sedang duduk diteras rumah Ruby sambil mendengarkan musik melalui headset ipodku. aku melihat Diana terhuyung-huyung datang dipapah oleh seorang pria bernama Beny, Beny memang seoarng yang kerapkali mengantar jemput Diana saat pergi bekerja. aku hanya diam sambil menatapi mereka heran, sedangkan Beny tersenyum meringis menyela permisi dihadapnku saat dia melewati aku menuju kamar Diana. Aku hanya cuek bebek dan tetap duduk disana sambil menunggui Ruby diteras.
Diana adalah sosok yang bekerja sebagai PSK di kota ini, dia ayu lagi manis, namun tuntutan ekonomi yang menghimpit keluarganya di pulau Jawa membawanya mengembara ke kota ini hingga ia rela bekerja demi uang dan keluarga nya sebagai seorang PSK. Diana pernah bercerita tentang kehidupannya kepadaku, termasuk apa yang menjerat nya dan pekerjaannya sekarang yang selalu menjadi candu baginya. wajar saja setiap hari ia harus kejar setoran kepada induk semang yang menjadikan ia sebagai PSK. akhir-akhir ini aku tahu bahwa Beny adalah seorang yang ditugaskan oleh Mucikari Diana untuk mengawasi Diana, itulah kenapa Beny lah yang siap tugas antar jemput diana dimanapun Diana berada.
tempatku memang selalu disini, nongkrong diteras Ruby sambil berceloteh dan sesekali mengerjakan tugas mata kuliah kampus bersamanya, Ruby sering menyindirku untuk menjauhi Beny dan Diana, namun aku tak pernah menggubris kalimat-kalimat cemooh Ruby, bagiku mereka tidak semenjijikan apa yang selalu orang-orang dan Ruby katakan. Mereka juga punya nurani, seperti makhluk ciptaan Tuhan lainnya. hanya pergaulan mereka saja yang berbeda.
suatu hari Beny datang untuk menjemput Diana seperti biasanya, namun dalam keadaan sedikit gusar, aku yang kebetulan sedang duduk sambil membaca di teras bertanya tentang keadaan Beny yang sedang aku saksikan. Dari cerita Benylah aku tahu bahwa Diana sakit dan Diana seringkali datang berkonsultasi ke dokter kandungan untuk memeriksakan rahimnya. Ada semacam virus yang menyerang rahimnya.Kenyataan lainnya adalah aku tahu bahwa Beny menyimpan perasaan yang tulus terhadap Diana, namun setiap Beny mengutarakan isi hatinya, Diana pikir bahwa Beny dalam keadaan melucu dihadapannya, itulah kenapa sampai saat ini Diana tak pernah tahu bahwa Beny menunggu dalam kesetiannya. Beny pernah mengutarakan bahwa ia ingin menikahi Diana dan memulai hidup dengan rejeki yang halal, bahkan ia ingin mengobati penyakit Diana, Beny siap. Beny pernah bercerita bahwa ia menabung untuk Diana, penyakitnya dan kehidupan mereka kelak di hadapan Diana namun Diana tak pernah menanggapinya serius. Ada rasa yang juga mampu aku rasakan sebagai pria yang menyayangkan kemolekan kekasih dinikmati orang lain, miris yang tak mampu diungkapkan kepada Diana, setidaknya itulah yang dipendam Beny.
2 minggu setelah Beny bercerita dihadapanku tempo hari, aku menemukan Beny dan Diana di RS. mereka sedang asyik bercanda sesekali berceloteh tak karuan.Hari itu adalah jadwal cek up Diana. yang aku tahu Diana sekarang sudah berhenti dari pekerjaan nya sebagai PSK. Dan Beny lah yang membantu membebaskan Diana dari jeratan Mucikari. Aku sengaja datang untuk ikut mendukung pengobatan yang rutin Beny lakukan untuk Diana. Hari itu aku berniat pamitan kepada Beny dan Diana, dikarenakan aku harus ikut pelatihan kerja di luar kota. Tak lama setelah kami asyik mengobrol dan bercanda, nama Diana di panggil, dari hasil laboratorium, dan rontgen dokter mengatakan bahwa Diana bisa sembuh dengan rutin melakukan pengobatan dan berkonsultasi, nampak disana wajah binar Diana dan Beny, termasuk aku. Beny sontak melamar Diana untuk yang kesekiankali nya dihadapanku dan dokter. Diana yang akirnya sadar bahwa tulus nya kesetiaan Beny yang selama ini menunggu jawaban darinya terharu, dan menyambut niat Beny untuk menikahinya.
Dua bulan setelah kejadian dirumah sakit itu aku dikabari Ruby bahwa mereka telah menikah dan hidup bermasyrakat dengan orang-orang sekitarnya, sekarang tiada lagi Diana yang sering menjadi buah bibir dan cenooh orang-orang, meskipun tidak banyak yang mampu menerima Diana tapi aku yakin Beny mampu melindungi Diana. Satu kesetiaan yang kadang hadir tanpa memandang fisik, dan tingkatan sosial. Itulah Beny yang setianya dibalas Diana.

Minggu, 14 Juli 2013

kemarin

kemarin adalah hari yang telah kita lalui bersama, dalam bahagia suka bahkan dalam sedih dan duka. pernah sudah kita lewati jalan yang akhirnya menyatukan kita dalam satu arah saling mengenggam erat satu sama lain, saling menguatkan, saling merangkul..
satu hari berlalu, bersamaan dengan detik, menit dan jam hingga menggantikan ke hari berikutnya..
aku masih disini, diiringi dengan bayang-bayangmu yang hadir dalam setiap langkahku berpijak.. 
aku masih disini dengan sejuta tanya ada apa dengan hidup yang memisahkan aku dan kamu?
aku masih disini kadang riang kadang terisak, memeluk semu bayangmu..dan aku bertanya-tanya apakah;
aku lega tiada hari lagi dimana aku harus melayani semua kebutuhanmu, rela bangun pagi untuk dirimu.
aku lega tiada hari lagi dimana aku harus menemani mu ke rumah sakit dan antri seharian demi suplai obat kamu.
aku lega tiada hari lagi dimana aku harus mendengar kalimat-kalimatmu yang berat seperti seorang ahli dalam segala hal.
aku lega tiada hari lagi dimana aku harus menahan dongkol akan candaanmu yang kadang menusuk hati..
dan aku benar-benar tidak pernah merasakan kelegaan itu, BAHWA AKU BENAR-BENAR MERINDUKAN SEMUA ITU. semua tentang kamu..
hingga mentari tergelincir, satu-satunya yang aku bawa pulang adalah sebuah kepenatan..menunggu yang tak akan pernah pulang lagi ke pelukan ku, yaitu kamu.
menunggu yang tak akan pernah datang lagi dalam pelukanku.

memperingati kisah kita yang telah terputus oleh kematian, aku menuliskan semua ini berharap apa yang telah aku rasakan dapat kau rasakan juga, menyamakan apakah masih sama cintamu cintaku.:)

Minggu, 16 Juni 2013

Masih..

hujan turun membasahi bumi .
aku masih terjaga sejak pukul12.06 ketika suara alarmku berbunyi, entah untuk membangunkanku dalam rangka apa..yang jelas berhasil membuat mataku tak kunjung terpejam sampai detik ini..
menunjukkan pukul 1.27am..
masih dalam lautan kerinduan ku yang menenggelamkan aku bulat-bulat ke dasarnya yang membuai aku dalam bayang-bayang wajahmu, wahai cinta.
masih dalam lantunan sedih sedan, terisak perlahan namun tertahan, berulang kali aku sebut namamu..
masih dalam misteri bayanganmu..saat pertemuan terakhir antara aku dan kamu..
masih dalam beribu kata tanya, apa aku benar-benar telah kehilangan kamu??

lelah aku dengan semua semu yang bergejolak dalam ingatanku. tak menemukan aku dalam satu titik yang membuai ku dalam bahagia saat-saat bersama antara aku dan kamu.
sulit memang, entah sampai kapan aku begini, dipermainkan ombak, tak kunjung menepi ke bibir pantai yang mampu membawa aku dalam bahagia kembali, saat-saat yang membawa aku dalam keikhlasan untuk melepaskan semua tentang kamu, saat-saat yang membawa aku tersenyum tulus dengan hati yang terbuka untuk menerima kenyataan kepergianmu.
mungkin hingga saat-saat aku kembali dengan cinta yang lain..

Selasa, 11 Juni 2013

rinduku

saat jarak menjadi pembatas antara perasaan yang didera, serasa semua goyah..
hidup tak lagi bergairah..
satu-satunya yang ingin direngkuh adalah kehangatan masa-masa kebersamaan kita..
satu-satunya yang ingin kudekap adalah ahrum tubuhmu yang menelusup masuk ke rongga hidung ini..
yang selalu aku tangisi..
yang selalu aku sesalkan..
mengapa semua ini bagaikan musim yang tak akan berganti..
semilir angin senja, selalu membawaku dalam namamu yang lekat-lekat telah aku sematkan untuk hidupku..
serasa badai yang menerpa wajahku kala aku kembali pada kenyataan ini..