kamu memperlakukan tanpa batasan seperti dulu, bukankah kita hanya berteman biasa saja saat ini.
ah, baru kusadari ini hanyalah sebuah tragedi, aku dengan kepercaya dirian yang terlalu berlebihan hingga menganggap ini semua hal luar biasa. ya, aku buru-buru sadar akan hal itu, lalu seperti biasa, aku akan kembali ke kenyataan, mendengar semua bualan dan cerita-cerita omong kosongmu itu.
dan seperti biasa, kamu selalu bisa membangkitkan syarafku untuk selalu berharap lebih dan lebih tentang hari ini dan hari-hari sebelumnya.
lalu, apa maksud ini semua. aku yang diam-diam mengagumimu, dengan semua sifat yang melekat kuat, serta karakter yang walaupun tak ada ubahnya. masih aku tunggu, aku nantikan..
bisakah aku berpaling sekarang, berlari dan menangis di tengah derasnya hujan agar kau tak tau betapa aku merindukan ini.
keadaan berbalik, kini kau berganti mendengarkan kau, entah akupun tak tau apa yang aku ocehkan di hadapnmu. hingga aku sadari mulut mu menganga dan berdiri.
aku mendelik mata ke atas, melihat kamu masih dengan keheranan. aku diam menunduk dengan menitikpusatkan penglihatanku pada sepotong puding yang masih bersisa.
entah bagaimana, kamu mendekap aku kuat-kuat, orang lain yang berada di sekitar kita bersorak sorai bertepuk tangan dengan pandangan takjub atas ocehanku barusan.
apa yang barusan aku ucapkan?
lupakan semua itu, sekarang aku dan kamu kembali menyatu seperti dulu. bahagiaku dan bahagiamu. memperbaiki semua kesalahpahaman yang pernah kita lewati. mengukir kembali namamu dan namaku dalam lembaran baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar