Selasa, 17 September 2013

Ketika Perasaanku Meluap

kita bergandengan tangan dalam gerimis tipis yang membasahi kota kala itu. beriringan di tengah gemericik rintik-rintik yang mulai jatuh deras. kita tiba di cafe dimana tempat biasa kita kunjungi berdua. kamu kibaskan rambutmu yang basah sambil tersenyum, tak lama setelah kita duduk disisi jendela, jadilah aku dan kamu bisa mendapati padatnya jalan raya menuju senja. masih dengan keadaan canggung, aku mengamati wajahmu, ada sebuah tanda tanya besar yang aku sembunyikan. menemukan kamu kembali, sebuah kebetulan atau jawaban atas do'a-do'a yang selalu aku panjatkan ketika merindukan bayangmu. rupanya kamu menyadari sifatku kala itu, aku tak kan pernah menyangka bahwa kamu menggenggan erat sela-sela jemariku. aku hanya bisa menyunggingkan senyumku, ada perasaan yang bergelayut diam-diam menghampiri nalarku. ada getaran yang berharap bahwa ini semua bukanlah perasaan yang keliru, aku berbesar hati tentang ini, bukanlah hal biasa-biasa yang kamu lakukan untukku. aku berharap ada sesuatu yang istimewa hari ini, sekarang ini. aku berhadapan dengan kamu, menghabiskan segelas lemon tea hangat dan sepotong puding bersama mu. ayolah, perasaan ini telah menjarah seluruh syaraf, belum juga kamu bercerita apa maksudmu untuk pertemuan kali ini. aku dalam kegelisahan ini, sedangkan kamu masih nampak biasa-biasa saja. aku mungkin bukanlah hal yang spesial lagi seperti dulu, seperti kita pacaran. lalu apa salah sampai detik ini aku selalu berharap agar kita kembali seperti dulu? hanya aku yang merasakan hal ini? ataukah kamu juga?
kamu memperlakukan tanpa batasan seperti dulu, bukankah kita hanya berteman biasa saja saat ini.
ah, baru kusadari ini hanyalah sebuah tragedi, aku dengan kepercaya dirian yang terlalu berlebihan hingga menganggap ini semua hal luar biasa. ya, aku buru-buru sadar akan hal itu, lalu seperti biasa, aku akan kembali ke kenyataan, mendengar semua bualan dan cerita-cerita omong kosongmu itu.
dan seperti biasa, kamu selalu bisa membangkitkan syarafku untuk selalu berharap lebih dan lebih tentang hari ini dan hari-hari sebelumnya.
lalu, apa maksud ini semua. aku yang diam-diam mengagumimu, dengan semua sifat yang melekat kuat, serta karakter yang walaupun tak ada ubahnya. masih aku tunggu, aku nantikan..
bisakah aku berpaling sekarang, berlari dan menangis di tengah derasnya hujan agar kau tak tau betapa aku merindukan ini.

keadaan berbalik, kini kau berganti mendengarkan kau, entah akupun tak tau apa yang aku ocehkan di hadapnmu. hingga aku sadari mulut mu menganga dan berdiri.
aku mendelik mata ke atas, melihat kamu masih dengan keheranan. aku diam menunduk dengan menitikpusatkan penglihatanku pada sepotong puding yang masih bersisa.

entah bagaimana, kamu mendekap aku kuat-kuat, orang lain yang berada di sekitar kita bersorak sorai bertepuk tangan dengan pandangan takjub atas ocehanku barusan.
apa yang barusan aku ucapkan?

lupakan semua itu, sekarang aku dan kamu kembali menyatu seperti dulu. bahagiaku dan bahagiamu. memperbaiki semua kesalahpahaman yang pernah kita lewati. mengukir kembali namamu dan namaku dalam lembaran baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar