Senin, 16 Juni 2014

Salah..

Walaupun keadaan tak pernah berpihak pada kamu akan apa yang kamu upayakan untuk hadir di dalam hari-hariku itu sudah membuatku merasakan cukup bahagia.
Aku jelas-jelas tak bisa menyalahkan pada waktu dan keadaan yang ada. Kehadiran kamu begitu membawa angin kesejukan dan mewarnai hari-hariku yang jauh dari kekasih.

Entah apa yang mampu melonggarkan perasaanku untuk menerima kehadiran kamu, aku tahu ini salah. Aku masih dimiliki orang lain yang juga tak bisa aku lepaskan. Namun kehadiran kamu mampu membuat aku lupa akan dia yang sudah lebih dulu aku miliki. Bertepatan dengan hari-hariku yang lelah akan penantian kembalinya dia dari pekerjaan, dengan lancang pula perasaanku bahagia akan hadirnya kamu dalam hari-hariku.

Sekian lama kita tak pernah bertemu, aku memperhatikan tingkahmu yang  mampu membuat aku terhibur dikala jenuh akan hari-hariku. Seolah aku sedang jatuh cinta dengan membayangkanmu saja dadaku berdetak lebih keras saat membayangkanmu. Rasanya aku sudah lama tak merasakan begitu kuatnya akibat dari jatuh cinta.
hari kehari semakin bertumbuh yang namanya jatuh cinta ini kepada kamu. Namun ini salah.
Aku sudah mengungkapkan bahwa aku tidaklah sendiri . ada orang lain diluar sana yang memiliki aku dan aku memilikinya..
Namun kamu bertahan, lagi-lagi aku terpesona sekaligus merasa bersalah. Tetap saja akhirnya kita menyatukan ini semua. Diam-diam dalam sebuah hubungan yang tak tahu arah dan tujuan.
Sekali lagi, entah niatnya baik ini tak akan pernah berhasil. Kamu dan aku tahu akan itu tapi tetap saling menjalankan peran masing-masing dalam hubungan semu ini.
Aku pernah meminta mu untuk menyerah, namun usahamu begitu membuatku goyah dan membiarkan kamu tetap masuk dalam hubungan aku dan dia..

Semakin dalam perasaan ini mengalir, semakin kuat pula rasa penyesalan akan hadirmu. Namun aku tak pernah menampik bahwa kamu begitu mewarnai hariku yang kelabu.

Satu hari yang kita habiskan bersama begitu indah namun juga begitu menyiksa batinku.

aku tak akan meminta lebih banyak lagi, sudah cukup hari-hariku begitu indah dan salah. Akhirnya tuhan jua yang menunjukkan yang mana jalan yang terbaik untuk kita berdua, aku cukupkan hari-hari indah itu cukup sampai disini. Kamu memang yang mampu membuat hari-hariku berwarna namun tak akan ku pertahankan lama. Bukan yang terbaik yang kita jalankan saat ini. Kamu bukan lah sebaik yang aku kira dan aku juga bukanlah orang yang baik untuk kamu dan kurasa bukan aku pula yang harus menjalankan peran ini lagi untuk kamu.
Semakin salah pula jika semakin hari perasaan ini terus bertumbuh untuk kamu..
Aku memilih untuk mengakhiri semua ini, aku kembali pada apa yang aku miliki sebenarnya. Namun ada perasaan sakit yang terselip di relungku, kamu pergi begitu saja tanpa ungkapan berarti. Setidaknya aku tahu ini sudah berakhir dan aku tak perlu merasakan serba salah pada perasaanku sendiri. Kepergianmu mengembalikan kelabu hari-hariku, namun satu yang aku tahu, aku hanya mencintai dia yang lebih dulu mencintaiku, yang cintanya ternyata lebih besar dari cinta yang lain..



Selasa, 17 September 2013

Ajari Aku..

teriknya matahari yang membakar sela-sela keramaian kota membuncah kala siang itu teriakan anarkis dari masyarakat yang bergerombol menolak kenaikan bahan bakar. ya, akhir-akhir ini sering kudapati pemandangan seperti ini, namun tak mengurungkan niat ku untuk ke tempat tujuanku siang itu. secepat kilat aku membelokkan skuter menjauhi gerombolan itu.
panas yang menyengat cukup membasahi punggung ku yang menantang matahari siang itu.tak berapa lama setelah mengikuti lorong dan celah sempit di belakang pasar tradisional aku sampai di tempat tujuanku.
akhirnya, aku bisa kembali merasakan ketenangan di tempat ini. ya, sudah 3 tahun terakhir aku sering berkunjung ke rumah singgah ini. tidak banyak yang berubah sejak aku pertama kali datang dan bergabung dengan beberapa mahasiswa dan beberapa pendonor harta mereka di rumah singgah ini. ini adalah tempat kami biasa berkumpul dengan anak-anak jalanan dan kurang mampu yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah. beragam umur dan sikap dari anak-anak inilah yang sering mengisi hari-hariku. hari ini aku bertugas berbagi ilmu dengan mata perlajaran bahasa inggris.
Nara, salah satu murid asuhan ku dengan berlari kecil menghampiriku, ada kantong es cendol di genggamannya. aku tersenyum sambil menyeruput es cendol di genggamannya.

sore menjelang ketika aku menyelesaikan tugasku hari itu. sedikit mendung di langit sore. ada Pak Ihwan dan Bu Delima yang berkunjung hari itu, tampak bercengkerama dengan ketua rumah singgah. aku hanya berpapasan dengan mereka dan tersenyum sambil meminta pamit.
tempat ini begitu lekat untuk ku beranjak, banyak juga kenangan yang aku rasakan selama 3 tahun terakhir, kecuali 1 tahun terakhir..
disini, di tempat ini di sela-sela gelak canda anak-anak yang aku bimbing, ada tawa ku juga yang menghiasi setiap waktu yang mempertemukan aku kepada seseorang yang begitu lekat dalam hidupku.
dialah Fajar, seseorang yang dulu kucintai dan dia juga mencintaiku. namun sekarang bukanlah waktu seperti dulu, seperti waktu aku dan dia saling memiliki satu sama lain.
aku duduk di tepian meja depan ruangan ku berbagi ilmu. ada cahaya mentari yang menelusup sela-sela bangunan yang padat sore itu.
sudah setahun terakhir sejak Fajar pergi dari kehidupanku. dia telah bersama wanita nya yang baru, merangkai kisah baru. begitu mudah dia melewati ini semua. seperti tanpa luka, ia menikmati hidup, bahkan telah berkisah dengan wanita lain. berbeda dengan apa yang aku rasakan. aku masih terpekur dalam hampa yang merenggut tiap-tiap hariku. aku hanya bisa menatap fajarku yang dulu dari jauh, dari sela-sela hingar-bingar kehidupan

teruntuk Fajar ku .
begitu mudah luka yang aku tancapkan padamu kau lewati tanpa erangan pilu.
maafkan aku atas apa yang aku lakukan, cintamu memang tiada dua.
namun, baru ku sadari sekarang, setelah aku dan kamu mengambil jalan sendiri-sendiri.
kesalahan terbesar ku adalah, melalaikan seluruh perhatianmu dan membiarkan cinta yang lain masuk ke dalam kehidupan kita, hingga engkau tersisih.
aku mohon, ajari aku bagaimana bertahan seperti kamu, melewati hari-hari tanpa kenangan yang mengiris derik-detik hariku
ajari aku tetap kuat meski tak lagi dalam dekapan hangatmu.
sunggguh aku tak pernah rela kamu dengan wanita-wanita mu itu.
namun, aku bukanlah siapa-siapa lagi untukmu.

fajar, engkau begitu hangat. dalam diam aku merindukanmu..

Ketika Perasaanku Meluap

kita bergandengan tangan dalam gerimis tipis yang membasahi kota kala itu. beriringan di tengah gemericik rintik-rintik yang mulai jatuh deras. kita tiba di cafe dimana tempat biasa kita kunjungi berdua. kamu kibaskan rambutmu yang basah sambil tersenyum, tak lama setelah kita duduk disisi jendela, jadilah aku dan kamu bisa mendapati padatnya jalan raya menuju senja. masih dengan keadaan canggung, aku mengamati wajahmu, ada sebuah tanda tanya besar yang aku sembunyikan. menemukan kamu kembali, sebuah kebetulan atau jawaban atas do'a-do'a yang selalu aku panjatkan ketika merindukan bayangmu. rupanya kamu menyadari sifatku kala itu, aku tak kan pernah menyangka bahwa kamu menggenggan erat sela-sela jemariku. aku hanya bisa menyunggingkan senyumku, ada perasaan yang bergelayut diam-diam menghampiri nalarku. ada getaran yang berharap bahwa ini semua bukanlah perasaan yang keliru, aku berbesar hati tentang ini, bukanlah hal biasa-biasa yang kamu lakukan untukku. aku berharap ada sesuatu yang istimewa hari ini, sekarang ini. aku berhadapan dengan kamu, menghabiskan segelas lemon tea hangat dan sepotong puding bersama mu. ayolah, perasaan ini telah menjarah seluruh syaraf, belum juga kamu bercerita apa maksudmu untuk pertemuan kali ini. aku dalam kegelisahan ini, sedangkan kamu masih nampak biasa-biasa saja. aku mungkin bukanlah hal yang spesial lagi seperti dulu, seperti kita pacaran. lalu apa salah sampai detik ini aku selalu berharap agar kita kembali seperti dulu? hanya aku yang merasakan hal ini? ataukah kamu juga?
kamu memperlakukan tanpa batasan seperti dulu, bukankah kita hanya berteman biasa saja saat ini.
ah, baru kusadari ini hanyalah sebuah tragedi, aku dengan kepercaya dirian yang terlalu berlebihan hingga menganggap ini semua hal luar biasa. ya, aku buru-buru sadar akan hal itu, lalu seperti biasa, aku akan kembali ke kenyataan, mendengar semua bualan dan cerita-cerita omong kosongmu itu.
dan seperti biasa, kamu selalu bisa membangkitkan syarafku untuk selalu berharap lebih dan lebih tentang hari ini dan hari-hari sebelumnya.
lalu, apa maksud ini semua. aku yang diam-diam mengagumimu, dengan semua sifat yang melekat kuat, serta karakter yang walaupun tak ada ubahnya. masih aku tunggu, aku nantikan..
bisakah aku berpaling sekarang, berlari dan menangis di tengah derasnya hujan agar kau tak tau betapa aku merindukan ini.

keadaan berbalik, kini kau berganti mendengarkan kau, entah akupun tak tau apa yang aku ocehkan di hadapnmu. hingga aku sadari mulut mu menganga dan berdiri.
aku mendelik mata ke atas, melihat kamu masih dengan keheranan. aku diam menunduk dengan menitikpusatkan penglihatanku pada sepotong puding yang masih bersisa.

entah bagaimana, kamu mendekap aku kuat-kuat, orang lain yang berada di sekitar kita bersorak sorai bertepuk tangan dengan pandangan takjub atas ocehanku barusan.
apa yang barusan aku ucapkan?

lupakan semua itu, sekarang aku dan kamu kembali menyatu seperti dulu. bahagiaku dan bahagiamu. memperbaiki semua kesalahpahaman yang pernah kita lewati. mengukir kembali namamu dan namaku dalam lembaran baru.

Kamis, 05 September 2013

Initial

aku tidak pernah tau kapan cinta akan datang dan pergi, namun aku tidak pernah takut untuk beriringan dengan takdir cinta yang akan membawa aku dalam cinta yang lain.. 
apa yang membuat kita bahagia lakukan. hidup ini sekali.
cinta ada dimanapun kita berada, bahkan di tempat dan waktu yang tak pernah kita duga..
aku dan kamu telah menjadi kenangan bagai abu yang tertiup angin..
namun bukan berarti aku tidak pernah bersedih lagi akan kenangan yang tak akan pernah kita wujudkan bersama, juga bukan berarti aku telah berdiri kuat dengan senyum sempurna atas kepergianmu..
tak semudah itu memang..
tapi setidaknya aku masih dengan khayal dan angan tentang kamu, bagikan warna-warni..
begitu kamu hadir dengan kamu yang khas dalam benakku tiada lagi isakan yang mengiringi aku dengan keasyikan ku bercengkerama dengan kamu..
semua begitu tampak nyata bagiku, walaupun aku hanya menghadirkan kembali kisah kita yang telah lalu..
dengan atau tanpa kamu aku belajar bahwa kehidupan ini akan membuat aku lebih dewasa..
tak ada yang mampu merubah setiap objek kenangan yang ingin selalu aku ingat, yaitu kamu..
begitu berartinya hingga tak ada yang menggantikan kamu dihatiku..
tiada yang lain..
tetap satu nama Y dihatiku..

Rabu, 14 Agustus 2013

Adoration

Mungkin hatimu akan beranjak dari hatiku, itulah mengapa alasan ku untuk selalu menekankan bahwa aku mampu jauh darimu dimanapun kamu berada, bahkan disetiap waku. aku yang percaya pada kekuatan cinta dan keberadaanya diantara aku dan kamu. namun aku menggila akan dirimu, saat bertatapan, saat saling memandang satu sama lain, aku lemah oleh pandanganmu itu, sorot mata yang selalu teduh untuk jiwaku. aku benci utnuk mengakui bahwa aku merindukan pelukan dari pria sepertimu, aku benci memandang bahumu dari belakang saat kau melangkah pergi dari hadapanku (bahkan dari hidupku).

meskipun kita dipisahkan oleh takdir yang menyedihkan, aku tahu bahwa aku tidak akan menjadi jeritan hatimu lagi.
kini kusadari tidak ada yang mampu menggantikan kamu, aku tahu bahwa tidak ada yang berarti dan berharga bagikku selain kamu.
senyuman yang tersungging di bibirmu saat aku tersenyum dan tertawa, selalu aku bayangkan bahwa hal itu begitu kuat masuk dalam ingatanku, dan membawa rona bahagia dalam hidupku.

tidak ada yang bisa aku harapkan lagi, seperti sekarang ini..
saat aku membayangkan hangat nafasmu begitu dekat lagi hangat.

Jumat, 26 Juli 2013

karmaku

aku tahu kita sama-sama suka, saling memuji satu sama lain dan sering bertemu pandang dalam perjumpaan yang membuat kita akhirnya saling mengakrabkan diri. suatu komunitas yang biasa mempertemukan antara mahasiswa untuk saling beradu argumen. diam-diam aku suka dengan kebiasaan konyol yang selalu berhasil mendorong untuk menyatukan kita berada dalam situasi hanya ada aku dan kamu.
kelamaan aku merasa ada sesuatu yang menarik aku untuk selalu berada di dekat kamu, sesuatu yang aku sebut dengan kenyamanan. aku tak tahu pasti, apa itu cinta? apa yang aku rasakan sebenarnya? mungkin aku lancang dengan perasaan yang begitu bergejolak dalam hati ini. namun apalah daya? daya pikatmu begitu mempesona hingga masuk terlalu dalam di benakku.

seminggu sekali dalam waktu yang mempertemukan aku dan kamu di sela-sela aktifitas kampus ternyata tak cukup untuk menenangkan perasaan ku yang kalang kabut karena merindu sosokmu. kian hari aku begitu terbius oleh kata-kata manis mu di sms. aku begitu takhluk dengan kata-kata manis mu di ujung telepon. salahkah aku dengan apa yang mendera ku? aku yang telah memiliki sosok kekasih yang selalu menemani ku kini tak aku gubris dengan semua perhatian yang tak memudar sedikitpun darinya. sedangkan aku semakin dalam mengagumi seseorang lain yang baru saja aku kenal.

pertemuan kita semakin dalam membawa kita dalam sebuah hubungan yang semakin erat, namun kamu dan aku tak berani saling memandang mata untuk mengutarakan perasaan  bahwa kita saling mencinta. bahwa kita saling memiliki perasaan untuk membahagiakan. tapi aku dan kamu tahu bahwa ada seseorang lain di masing-masing pihak akan berontak merasa disakiti oleh apa yang kita sama-sama rasakan. kamu masih mencintai dia, perempuanmu. sedangkan aku masih mencintai dia, pria ku. sulit rasanya untuk aku dan kamu memilih.

hening akhirnya sering aku temui di nada handphone ku. tak lagi aku jumpai pesan-pesan singkat darimu, tak lagi aku dengar suaramu di ujung telepon dengan sejuta perhatian dan tingkah lakumu yang menjerat kalbu. satu hari dalam seminggu aku kembali menemukanmu, namun tak banyak yang bisa aku perbuat untuk menyatukan kembali kamu dan aku. aku merindukan kisah kita yang dulu, sedangkan kamu sepertinya tidak begitu seperti aku. 

aku tahu akhirnya kamu memilih setia kepada perempuanmu. sedangkan aku lebih memilih kamu. ya, aku tinggalkan dia, priaku untuk kamu. namun tak jua mengembalikan kita dalam kebersamaan yang hangat seperti dulu. aku merana,sayang. bisakah kau rasakan rasaku? aku merindumu, bisakah kau dengar laraku? mengapa pesonamu begitu merenggut nuraniku?

seiring waktu yang bergulir, aku merasakan apa itu cinta. aku turut bahagia dengan keputusan yang kamu ambil. senyum yang kamu kembangkan begitu hangat dalam bayang-bayang semu. kamu tinggalkan kota ini. sama halnya kamu meninggalkan aku dengan kenangan yang telah kita lukiskan. masing-masing langkah telah kita ambil untuk mendewasakan aku dan kamu. aku belajar dari kesetiaanmu dalam mengambil keputusan. selamat tinggal, sayang. aku bahagia kamu dengan nya.

Selasa, 23 Juli 2013

Kehadiranmu

Kamu hadir begitu saja dalam hidupku. Sekuat apapun aku menolak untuk menepis hadirmu kamu tetap dengan keputusanmu yang meyakini untuk membahagiakan aku. Begitulah sikapmu memang, tak gentar menelusup dalam hidupku.

Kamu hadir dalam hidupku yang terpuruk oleh kenyataan yang memperkenalkan aku dalam sebuah kehilangan yang begitu hebat. Aku kehilangan seorang suami yang begitu aku cintai. Ya, Lupus merenggut nyawa nya. Memisahkan aku dengan sejuta keakrabanku dengan nya. Aku yang terbuai oleh ombak kebahagiaan tiba-tiba harus menepi, mencari daratan baru. Memulai kembali kisah yang harus aku lewati tanpa suamiku.
Suamiku meninggalkan aku dan seorang bayi yang baru berusia 4 bulan waktu itu.

Hari-hari berikutnya, tuhan mempertemukan aku dan kamu, walau tak pernah bertatapn langsung, tapi kamu begitu nyata dengan warna-warni perhatianmu, sikapmu yang begitu dalam mempertegas bahwa kamu begitu memahami keterpurukanku.

Sayangnya sekuat aku menahan hati ini untuk menolak kehadiranmu yang rasanya begitu cepat dalam hidupku, semakin kamu mendobrak masuk lebih jauh. Aku sibuk dengan keangkuhanku yang begitu jelas aku tunjukkan padamu aku coba mengusir bayangmu yang mengikuti jejak-jejak perhatian dari suamiku.
Entah bagaimana antara kamu dan suamiku mempunyai kesamaan yang selalu menerkamku lewat perhatian-perhatian yang seringkali kamu selipkan dalam keseharianku. Kamu begitu jahat, pikirku. Mencabik-cabik rindu ini semakin dalam. Terlebih kamu adalah sahabat karib dari suamiku sejak masa kecilnya. Namamu sering aku dengar dari suamiku, namun tak pernah aku tahu bahwa orang yang selalu ia ceritakan adalah kamu.

Aku dengan nafasku yang kuhela melewati hari-hari dalam tulisan takdir tuhan, tanpa arah, mengikuti rotasi bumi dan perputaran waktu begitu saja, kadang lelah aku bantingkan tubuh ini pada tangis yang dalam, terisak tanpa siapapun yang tahu bahwa aku merindukan suamiku. Lagi-lagi kamu hadir mencoba mengusir sedihku. Menemani aku dalam isakan hebat, dengan kalimat-kalimat mu yang merdu menenangkan aku walau melalui telepon.

Tanpa aku sadari, aku tak lagi mampu menahan kehadiranmu yang semakin berhembus kala aku langkahkan kaki dalam hidupku yang baru. Goyah keyakinanku untuk menolak semua perhatian-perhatianmu yang meluruh dalam jejakku. Tak kupingkiri bahwa ada rasa nyaman yang bergejolak diam-diam dalam kehangatan yang kau hadirkan. Mungkin ini cara lain yang tuhan tuliskan dalam hidupku, menghadirkan kembali senyumanku yang luput dari hidupku, melalui kamu.


Aku telah menerima dengan lapang dada bahwa kamu telah hadir dalam hidupku, menerima aku dengan segala kondisi yang mungkin melebihi beban untuk hadir dalam hari-harimu. Begitu pula dengan janji-janji manis yang kamu janjikan untuk meneruskan kisah bahagia yang telah aku mulai dengan suamiku terdahulu. Semoga kasih sayang kamu rajutkan dalam kisah ini menjadi akhir yang membawa kebahagiaan untuk selamanya.