perjumpaan kita berawal dari sebuah ketidak sengajaan yang tak akan pernah aku lupakan, kita bertemu di satu titik keramaian kota ini. kota tua yang menyemburatkan banyak kisah-kisah kehidupan. termasuk romansa antara aku dan kamu. kamu yang selalu tersenyum manis di bawah mentari pagi, selalu mengiasi aktivitas hari-hariku.jauh sebelum itu hati ini terpuruk. kau hadir sebagai obat yang membuat aku kecanduan dalam ramah tamah sikapmu, lemah lembut suaramu begitu mengalun di telingaku bagaikan simfoni pagi.
hari-hariku selalu bermula dengan menghampirimu di halte busway. setiap pagi yang selalu aku nantikan dimalam-malamku, betremu kamu di sana, bercanda ria, beriringan hingga di dalam perjalananpun aku mmapu terbuai dalam semangat yang membara oleh kamu. hati ini telah jatuh cinta! jatuh cinta kepada kamu Mentari. Mentari yang menyinari tahta hatiku, nama mu melekat hangat, duhai Mentariku.
rasa ini bergemuruh kala aku menemukan senyum mu yang mengembang diseberang sana, di halte yang biasa mempertemukan kita disetiap paginya, menghamburkan kita pada percakapan-percakapn ringan lagi hangat, hingga memisahkan kita di tempat kamu dan aku bekerja. begitulah hari-hariku bermula hingga mnegiringiku menuju senja yang bergejolak dengan semua angan tentang kamu. senja yang aku tunggu-tunggu tiba dan kembali mempertemukan kita beriringan menuju peradaban, menyempatkan sisa-sisa kebersamaan antara aku dan kamu di penghujung hari-hari yang menua. kembali aku dan kamu duduk berdampingan di busway, menceritakan penatnya hari-hari yang baru saja berlalu.
duhai Mentariku, bisakah kau dengar degup jantungku kala aku berdekatan denganmu, bisakah kau baca hati dan tingkah polaku yang kadang membuatku tak karuan oleh bayang-bayangmu yang silau. ya. aku silau dan bertahan pada indahnya dirimu, Mentari.
aku tak kuasa lagi memendam rasa ini dan ingin aku hempaskan di kenyataan, bahwa aku begitu terpesona dan jatuh hati padamu.
hari itu, aku tekadkan bahwa aku akan menyatakannya. menyatakan perasaan yang telah mewarnai hari-hariku sejak pertama kali kamu buai dalam perhatianmu. hari itu aku bawakan kamu cincin sederhana yang aku ikatkan pada salah satu balon yang spesial aku bawakan untukmu, semoga warna-warna nya memberikan kesan mendalam untukmu sebagai ungkapan dari perasaanku yang beraneka warna semenjak kehadiranmu.
hujan turun, membasahi kota tua ini, kala aku melangkahkan kaki menuju halte tempat kita biasa bertemu. namun aku tak melihat mu di sana, dimana tempat mu biasa duduk menungguku.aku menyisir tepian trotoar berharap menemukan di tengah derasnya hujan dan angin yang berhembus.
aku dapati teriakanmu yang memanggil namaku sambil melambaikan tangan mu dari balik pintu mobil yang berada ditepian trotoar. aku dengan basah yang melekat erat mengampirimu yang biasa ramah mencoba menggali lagi semangat ku yang menggebu, masih dengan menggenggam erat balon warna-warniku yang kupertahankan untukmu.
ada pertanyaan besar yang hinggap didalam kepalaku kala aku melihat sosok pria bersebelahan di sampingmu. berperawakan seseorang yang mapan dan tampan, berbanding jauh dengan kesederhaan yang selalu aku tunjukkan dihadapanmu. tak kusangka aku mengungkapkan nya juga, perasaan yang ku pendam dalam-dalam, aku nyatakan dalam derasnya hujan, aku ungkapkan dengan suara parau walau aku tak yakin kamu bisa mendengar suaraku. lemas, itulah perasaanku setelah aku menyelesaikan tujuanku.
kamu turun dari mobil, dengan perasaan heran dan bingung. dan yang paling jelas aku dengar adalah pernyataan yang keluar dari bibir manismu bahwa kamu telah memilih pria lain selain aku, pria yang sedang menantimu di dalam mobil. untuk yang terakhir kalinya, aku menggenggam erat tangan mu, berharap kamu bahagia dengan pilihanmu.
itulah terakhir kalinya aku bertemu denganmu, meninggalkan kenangan saat hujan mulai turun dihadapanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar