kelamaan aku merasa ada sesuatu yang menarik aku untuk selalu berada di dekat kamu, sesuatu yang aku sebut dengan kenyamanan. aku tak tahu pasti, apa itu cinta? apa yang aku rasakan sebenarnya? mungkin aku lancang dengan perasaan yang begitu bergejolak dalam hati ini. namun apalah daya? daya pikatmu begitu mempesona hingga masuk terlalu dalam di benakku.
seminggu sekali dalam waktu yang mempertemukan aku dan kamu di sela-sela aktifitas kampus ternyata tak cukup untuk menenangkan perasaan ku yang kalang kabut karena merindu sosokmu. kian hari aku begitu terbius oleh kata-kata manis mu di sms. aku begitu takhluk dengan kata-kata manis mu di ujung telepon. salahkah aku dengan apa yang mendera ku? aku yang telah memiliki sosok kekasih yang selalu menemani ku kini tak aku gubris dengan semua perhatian yang tak memudar sedikitpun darinya. sedangkan aku semakin dalam mengagumi seseorang lain yang baru saja aku kenal.
pertemuan kita semakin dalam membawa kita dalam sebuah hubungan yang semakin erat, namun kamu dan aku tak berani saling memandang mata untuk mengutarakan perasaan bahwa kita saling mencinta. bahwa kita saling memiliki perasaan untuk membahagiakan. tapi aku dan kamu tahu bahwa ada seseorang lain di masing-masing pihak akan berontak merasa disakiti oleh apa yang kita sama-sama rasakan. kamu masih mencintai dia, perempuanmu. sedangkan aku masih mencintai dia, pria ku. sulit rasanya untuk aku dan kamu memilih.
hening akhirnya sering aku temui di nada handphone ku. tak lagi aku jumpai pesan-pesan singkat darimu, tak lagi aku dengar suaramu di ujung telepon dengan sejuta perhatian dan tingkah lakumu yang menjerat kalbu. satu hari dalam seminggu aku kembali menemukanmu, namun tak banyak yang bisa aku perbuat untuk menyatukan kembali kamu dan aku. aku merindukan kisah kita yang dulu, sedangkan kamu sepertinya tidak begitu seperti aku.
aku tahu akhirnya kamu memilih setia kepada perempuanmu. sedangkan aku lebih memilih kamu. ya, aku tinggalkan dia, priaku untuk kamu. namun tak jua mengembalikan kita dalam kebersamaan yang hangat seperti dulu. aku merana,sayang. bisakah kau rasakan rasaku? aku merindumu, bisakah kau dengar laraku? mengapa pesonamu begitu merenggut nuraniku?
seiring waktu yang bergulir, aku merasakan apa itu cinta. aku turut bahagia dengan keputusan yang kamu ambil. senyum yang kamu kembangkan begitu hangat dalam bayang-bayang semu. kamu tinggalkan kota ini. sama halnya kamu meninggalkan aku dengan kenangan yang telah kita lukiskan. masing-masing langkah telah kita ambil untuk mendewasakan aku dan kamu. aku belajar dari kesetiaanmu dalam mengambil keputusan. selamat tinggal, sayang. aku bahagia kamu dengan nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar