Kamu hadir begitu saja dalam hidupku. Sekuat apapun aku
menolak untuk menepis hadirmu kamu tetap dengan keputusanmu yang meyakini untuk
membahagiakan aku. Begitulah sikapmu memang, tak gentar menelusup dalam
hidupku.
Kamu hadir dalam hidupku yang terpuruk oleh kenyataan
yang memperkenalkan aku dalam sebuah kehilangan yang begitu hebat. Aku kehilangan
seorang suami yang begitu aku cintai. Ya, Lupus merenggut nyawa nya. Memisahkan
aku dengan sejuta keakrabanku dengan nya. Aku yang terbuai oleh ombak kebahagiaan
tiba-tiba harus menepi, mencari daratan baru. Memulai kembali kisah yang harus
aku lewati tanpa suamiku.
Suamiku meninggalkan aku dan seorang bayi yang baru
berusia 4 bulan waktu itu.
Hari-hari berikutnya, tuhan mempertemukan aku dan kamu,
walau tak pernah bertatapn langsung, tapi kamu begitu nyata dengan warna-warni
perhatianmu, sikapmu yang begitu dalam mempertegas bahwa kamu begitu memahami
keterpurukanku.
Sayangnya sekuat aku menahan hati ini untuk menolak
kehadiranmu yang rasanya begitu cepat dalam hidupku, semakin kamu mendobrak
masuk lebih jauh. Aku sibuk dengan keangkuhanku yang begitu jelas aku tunjukkan
padamu aku coba mengusir bayangmu yang mengikuti jejak-jejak perhatian dari
suamiku.
Entah bagaimana antara kamu dan suamiku mempunyai
kesamaan yang selalu menerkamku lewat perhatian-perhatian yang seringkali kamu
selipkan dalam keseharianku. Kamu begitu jahat, pikirku. Mencabik-cabik rindu
ini semakin dalam. Terlebih kamu adalah sahabat karib dari suamiku sejak masa
kecilnya. Namamu sering aku dengar dari suamiku, namun tak pernah aku tahu
bahwa orang yang selalu ia ceritakan adalah kamu.
Aku dengan nafasku yang kuhela melewati hari-hari dalam
tulisan takdir tuhan, tanpa arah, mengikuti rotasi bumi dan perputaran waktu
begitu saja, kadang lelah aku bantingkan tubuh ini pada tangis yang dalam,
terisak tanpa siapapun yang tahu bahwa aku merindukan suamiku. Lagi-lagi kamu
hadir mencoba mengusir sedihku. Menemani aku dalam isakan hebat, dengan
kalimat-kalimat mu yang merdu menenangkan aku walau melalui telepon.
Tanpa aku sadari, aku tak lagi mampu menahan kehadiranmu
yang semakin berhembus kala aku langkahkan kaki dalam hidupku yang baru. Goyah
keyakinanku untuk menolak semua perhatian-perhatianmu yang meluruh dalam
jejakku. Tak kupingkiri bahwa ada rasa nyaman yang bergejolak diam-diam dalam
kehangatan yang kau hadirkan. Mungkin ini cara lain yang tuhan tuliskan dalam
hidupku, menghadirkan kembali senyumanku yang luput dari hidupku, melalui kamu.
Aku telah menerima dengan lapang dada bahwa kamu telah
hadir dalam hidupku, menerima aku dengan segala kondisi yang mungkin melebihi
beban untuk hadir dalam hari-harimu. Begitu pula dengan janji-janji manis yang
kamu janjikan untuk meneruskan kisah bahagia yang telah aku mulai dengan
suamiku terdahulu. Semoga kasih sayang kamu rajutkan dalam kisah ini menjadi
akhir yang membawa kebahagiaan untuk selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar