Selasa, 23 Juli 2013

Kehadiranmu

Kamu hadir begitu saja dalam hidupku. Sekuat apapun aku menolak untuk menepis hadirmu kamu tetap dengan keputusanmu yang meyakini untuk membahagiakan aku. Begitulah sikapmu memang, tak gentar menelusup dalam hidupku.

Kamu hadir dalam hidupku yang terpuruk oleh kenyataan yang memperkenalkan aku dalam sebuah kehilangan yang begitu hebat. Aku kehilangan seorang suami yang begitu aku cintai. Ya, Lupus merenggut nyawa nya. Memisahkan aku dengan sejuta keakrabanku dengan nya. Aku yang terbuai oleh ombak kebahagiaan tiba-tiba harus menepi, mencari daratan baru. Memulai kembali kisah yang harus aku lewati tanpa suamiku.
Suamiku meninggalkan aku dan seorang bayi yang baru berusia 4 bulan waktu itu.

Hari-hari berikutnya, tuhan mempertemukan aku dan kamu, walau tak pernah bertatapn langsung, tapi kamu begitu nyata dengan warna-warni perhatianmu, sikapmu yang begitu dalam mempertegas bahwa kamu begitu memahami keterpurukanku.

Sayangnya sekuat aku menahan hati ini untuk menolak kehadiranmu yang rasanya begitu cepat dalam hidupku, semakin kamu mendobrak masuk lebih jauh. Aku sibuk dengan keangkuhanku yang begitu jelas aku tunjukkan padamu aku coba mengusir bayangmu yang mengikuti jejak-jejak perhatian dari suamiku.
Entah bagaimana antara kamu dan suamiku mempunyai kesamaan yang selalu menerkamku lewat perhatian-perhatian yang seringkali kamu selipkan dalam keseharianku. Kamu begitu jahat, pikirku. Mencabik-cabik rindu ini semakin dalam. Terlebih kamu adalah sahabat karib dari suamiku sejak masa kecilnya. Namamu sering aku dengar dari suamiku, namun tak pernah aku tahu bahwa orang yang selalu ia ceritakan adalah kamu.

Aku dengan nafasku yang kuhela melewati hari-hari dalam tulisan takdir tuhan, tanpa arah, mengikuti rotasi bumi dan perputaran waktu begitu saja, kadang lelah aku bantingkan tubuh ini pada tangis yang dalam, terisak tanpa siapapun yang tahu bahwa aku merindukan suamiku. Lagi-lagi kamu hadir mencoba mengusir sedihku. Menemani aku dalam isakan hebat, dengan kalimat-kalimat mu yang merdu menenangkan aku walau melalui telepon.

Tanpa aku sadari, aku tak lagi mampu menahan kehadiranmu yang semakin berhembus kala aku langkahkan kaki dalam hidupku yang baru. Goyah keyakinanku untuk menolak semua perhatian-perhatianmu yang meluruh dalam jejakku. Tak kupingkiri bahwa ada rasa nyaman yang bergejolak diam-diam dalam kehangatan yang kau hadirkan. Mungkin ini cara lain yang tuhan tuliskan dalam hidupku, menghadirkan kembali senyumanku yang luput dari hidupku, melalui kamu.


Aku telah menerima dengan lapang dada bahwa kamu telah hadir dalam hidupku, menerima aku dengan segala kondisi yang mungkin melebihi beban untuk hadir dalam hari-harimu. Begitu pula dengan janji-janji manis yang kamu janjikan untuk meneruskan kisah bahagia yang telah aku mulai dengan suamiku terdahulu. Semoga kasih sayang kamu rajutkan dalam kisah ini menjadi akhir yang membawa kebahagiaan untuk selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar